catatan kecilku dalam merekam cahaya melihat sekitar berdendang nada mengukir jejak menulis sejarah.
Install Theme

Operasi sekarang yah…

Memang susah sekali mengatur waktu, bahkan untuk kesehatanku sendiri. Terlalu sibuk ataukah hanya menyibukkan diri, entahlah. Tapi hari itu Aku putuskan untuk pergi.

Ibu masih sibuk berdandan, jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. “Hayu bu cepet, keburu penuh entar” ujarku untuk mempercepat. “Iya sabar, bentar lagi juga beres,” jawabnya. Aku panaskan dulu mesin motorku sambil menunggu. Aku memakai pakaian casual, celana jeans, kaos hitam, jaket biru, dan sneakers biru tampak biasa. Lalu kami pun pergi.

Lalu lintas terbilang lancar di hari Kamis itu, aku memakai jalur biasa dan sampailah kami di Rumah Sakit Mata. Sudah lama berencana kemari tapi tidak jadi, akhirnya hari ini bisa kuperiksakan mataku yang sedikit mengganggu.

"Pasien baru A?" sapa Petugas RS. "Iya bu" jawabku sambil cengengesan. "Silakan ke loket 6 dulu ya a" lanjut Petugas RS. Lalu Aku langsung menuju loket tersebut dan dari loket tersebut diarahkan lagi menuju Ruang Rekonstruksi, Okuloplasti, & Onkologi (ROO).

Ruangan di lantai 3 ini tidak terlalu ramai tidak terlalu sepi sedang saja, tapi seram juga banyak poster-poster yang menunjukkan penyakit mata serius. Tibalah Aku dipanggil oleh perawat, masih cengengesan. Mungkin ini yang awal pengecakannya, badanku dan tinggiku diukur terlebih dulu dan ditanya mengenai riwayat kesehatanku, dan selesailah tahap tersebut.

Aku pikir sudah selesai ternyata belum. Aku disuruh menunggu dulu untuk pemeriksaan berikutnya, kali ini oleh dokter. Dia mengecek mataku dipijatnya perlahan. Dokter langsung menawarkanku untuk menjalani operasi kecil. Aku dan ibu bingung sekaligus kaget, kenapa jadi begini. Aku pikir ini hanya biasa saja, bisa pakai obat lalu hilang ternyata harus menjalani insisi (bedah minor).

Kelopak mataku sebelah kiri memang ada benjolan yang dulu Aku hiraukan saja, macam ‘bintitan’. Setelah mendengarkan penjelasan dokter ternyata itu infeksi yang disebut Khalazion dan itu termasuk tumor jinak yang memang tidak terasa sakitnya. Operasi kecil ini tujuannya mengeluarkan isi dari benjolan tersebut dan obat pun sudah tidak bisa membuat kempes.

Aku lihat ibu masih bercanda, walaupun Aku tahu ibu pasti lebih tegang daripada Aku. Kami menandatangani surat persetujuan operasi. Peryataan dokter yang menjelaskan prosedural operasi pun membuat Aku makin gusar, karena bisa jadi akan terjadi pendarahan ataupun benjolan ini bakal tumbuh lagi.

Setelah mengurus proses administrasi, akhirnya Aku langsung masuk ke ruangan IGD untuk menjalani operasi. Pertama Aku diberi gelang, lalu masuk ke suatu ruangan lain. Perawat memakaikanku baju khusus dan tutup kepala sebagai persyaratan.

"Silakan A, nah kepalanya sebelah sini yah" ujar dokter perempuan yang tak bisa ku lihat wajahnya karena tertutup masker. Perasaanku bingung campur tegang, Aku mencoba tenang lalu ku ikuti perintah dokter tersebut.

"Yang mana A" dokter itu bertanya. "Yang kiri dok" jawabku. "Udah berapa lama?" dokter itu bertanya lagi. "Kira-kira seminggu ada lah" jawabku tegang. "Ah ini sih sepertinya udah lebih yah" kata dokter. Aku pun tidak tahu pastinya, cuma memang dulu ada benjolan kecil dan seminggu ini terasa jadi besar saja, begitu jawabku.

Dalam ruangan itu ada tiga orang, Aku, dokter, dan perawat. Lalu dokter memulai operasiku dengan berkata “Bismillah”, akupun mengikutinya. Perawat mulai memberikan obat tetes mata yang agak perih dan membuat mataku berkunang-kunang, lalu dilanjutkan memberikan bius lokal di sekitar mata kiriku. Ingin ku penjamkan mata ini tapi tidak bisa. Dokter terus mengajakku bicara agar aku tidak tegang. Perlahan-lahan kelopak kiriku dijepit dan dilipat dengan suatu alat, walaupun dibius tapi ini masih terasa. “Aa ketarik dok” kataku. “Iya gak apa-apa, gak sakit kan? masa cowok sakit?” balas dokter. Dalam hati, emang cowok gak boleh sakit apa. Lalu dokter kembali melanjutkan pekerjaannya, terasa sayatan dalam kelopak. Keluarlah isi dari benjolan itu, entahlah itu apa tapi kata dokter nanah dan darah yang keluar.

Masih mengobrol, Aku tanya lagi “Dok ini kapan dibuka yah jaitannya?”. “Oh ini gak pake jaitan ko, tapi perbannya nanti dibuka yah jam 5! Jangan kaget kalau banyak darah”. “Alhamdulillah…”, ucap dokter penuh rasa syukur. Operasiku berhasil, namun beliau berpesan kalau ini bisa muncul lagi jika Aku tidak menjaga kebersihan mata. Mata harus dibersihkan kalau sudah pulang naik motor, pakai sabun bayi biar gak perih di mata katanya. Mataku diperban sebelah kiri seperti bajak laut.

"Kamu kesini sama siapa?" tanya dokter. "Sama ibu dok" jawabku. "Naik apa? kamu yang nyetir?" tanya dokter lagi. "Naik motor, iya dok saya yang nyetir" jawabku tenang. Dokter dan perawat kaget, "Aduh kamu yah, mana bisa kalau matanya cuma sebelah, entar ditangkap polisi udah minta jemput" kata dokter spontan.

Iya juga mana bisa tapi memang awalnya sih mau ngecek tadi bukan mau operasi. Akhirnya aku keluar ruang IGD, ibu sedang menunggu di depan. Dari raut mukanya ibu menahan kegusaran. “Gimana A lancar?” tanya ibu. “Alhamdulillah bu” jawabku.

Setelah ku ceritakan pesan dokter tadi kami tidak jadi naik motor, sodaraku yang sedang istirahat makan siang menjemput kami. Kutinggalkan saja motor disana nanti biar orang rumah yang membawa.

Kejadian ini sebagai pengingat, Aku harus menghargai diriku sendiri dan menjaganya. Mesin pun bila sering dipakai akan aus dan tidak akan terpakai sama sekali, begitu juga tubuh akan tiba saatnya menjadi ringkih dan lenyap dimakan waktu.

image

ugunshotgun:

Cara paling mudah untuk mengurangi bahkan menghapus tindak perdagangan orang dan perbudakan modern adalah dengan selalu memperhatikan sekitar dan peduli akan sesama. Kampanye sederhana yang dinamakan #FreeHugs ini merupakan bagian dari kepedulian kita sebagai anak muda. Berpelukan merupakan simbol kepedulian yang tulus dan sederhana. — FightBDG
y: https://www.youtube.com/watch?v=as7P5nJqr4c
#campaign #social #movement

ugunshotgun:

Cara paling mudah untuk mengurangi bahkan menghapus tindak perdagangan orang dan perbudakan modern adalah dengan selalu memperhatikan sekitar dan peduli akan sesama. Kampanye sederhana yang dinamakan #FreeHugs ini merupakan bagian dari kepedulian kita sebagai anak muda. Berpelukan merupakan simbol kepedulian yang tulus dan sederhana. — FightBDG

y: https://www.youtube.com/watch?v=as7P5nJqr4c

#campaign #social #movement

craftjunkie:

Moon Clock {How to}

Found at: bambulablogi

Buat hiasan kamar keren juga nih ;)

(via dizzymaiden)

archiemcphee:

Japanese graphic designer and architect Yusuke Oono devised a beautiful way to illustrate scenes from stories in three dimensions. These awesome 40-panel laser cut paper books tell stories both by turning one page at a time and as a whole when viewed in the round as beautiful dioramas.

Click here to view additional details from each book.

[via Colossal]

Sugoooooi!!

(via mythsandfabrications)

20 Things I Learned About Browsers and the Web →

Bacaan tengah malam, barusan di-edit lagi linknya pake bahasa Indonesia biar greget! haha

Is This Love

Keren Opa Oma! :))

Always On My Mind

I always thinking of you, I know I was wrong. Maybe here’s the song who can explain what I’m felling. I was wondering to myself, are you still waiting for me?

Maybe I didn’t treat you
Quite as good as I should have
Maybe I didn’t love you
Quite as often as I could have
Little things I should have said & done
I just never took the time

But you were always on my mind
You were always on my mind

Maybe I didn’t hold you
All those lonely, lonely times
And I guess I never told you
I’m so happy that you’re mine
If I made you feel second best
Girl, I’m sorry I was blind

You were always on my mind
You were always on my mind

Tell me, tell me that your
Sweet love hasn’t died
Give me, give me one more chance
To keep you satisfied
Satisfied

Little things I should have said & done
I just never took the time

You were always on my mind
You were always on my mind
You were always on my mind
You were always on my mind

Mengunjungi Tukang Kadal Monumen Perjuangan

image

Hampir aja gak jadi karena saya bangun kesiangan haha, tapi berhubung sudah janji yah harus ditepati minggu pagi ini ngeboseh sepeda dari rumah daerah Inhoftank ke Dipatiukur tujuannya Monumen Perjuangan. Sebenernya kalau jarak sih gak masalah cuma itu loh kalau udah daerah situ macetnya bikin males, yang jalan aja susah masuknya karena berebut antar mobil, motor gak mau ngalah.

image

Nenek berjalan tiada lelah.

image

Belilah aku dan kau akan tahu waktu.

Sekitar setengah jam saya sampai, akhirnya ketemu juga temen-temen yang buka lapak disana. Mereka ini penjual reptil, dari mulai kandang sama makanannya juga ada. Tinggal bilang kalau mau reptil apa ntar diusahain (promo -red) ahaha.

image

Nongkrong bareng tukang kadal, photo by Bang Gio.

image

Ujang: Melihatmu ingin ku beli, tapi teu boga duit hiks.

image

Scream udah beralih profesi jadi penjual jangkrik.

image

Nanana Iguana, mirip binatang purba - lirik lagu

image

Naga apa hamster?

image

Bro bro ganteng gak gue bro?

Rencana sih memang bukan cuma ketemu mereka, tapi punya niatan moto hiruk pikuk disana aja. Pas lagi moto tiba-tiba ada tukang parkir yang ngajar ngbrol, agak bingung juga sih yang bapak itu obrolin yang pasti cerita dia juga dulu sering moto. Dulu bapak itu seorang tour guide terus dikasih kamera sama orang Belanda, merek Nikon. Bapak ini keukeuh kalau Nikon ini buatan Jerman, saya cuma bengong aja iya iyahin aja padahal sih kalau dari sejarah yang benernya dari Jepang loh teman-teman jangan terkecoh hehe. Saya sendiri pake Canon tapi setidaknya tau sejarah merk-merk kamera dari mana aja.

image

Bapak tukang parkir yang pakai Nikon, katanya.

Sudah selesai ngobrol liat sekitar disitu banyak ternyata anak-anak ABG kekinian yang kayak dicetak dari cetakan yang sama. Jadi mikir, urang baheula kieu oge teunya? soalnya kesannya ABG-ABG ini maksa gitu. Kalau di internet namanya SWAG lah. Baju kegedean ala hardcore, pake bandana, celana skinny, sepatu new balance (jis aing ge make) terus nari kejang-kejang gak puguh. Ini sepertinya salah Justin Bieber yang ngasih gaya kayak gitu ahaha.

image

Arus pergerakan trend fashion masa kini pada kalangan anak baru gede.

image

Tunggu aku mau berubah menjadi… Ranger Merah!

image

Nih aku sedang noong mereka dansa eh dance maksudnya.

Yah seperti itu lah perjalanan hari ini dari mulai ketemu tukang kadal, tukang parkir, sampai liat anak-anak baru gede dengan momen yang sudah saya abadikan, terima kasih sudah membaca :)

Buka Mata, Hati, Telinga
Aduh ini sebenernya bisa dibilang late post ni maaf, baru pulang banget. Tapi fotonya di ambil malem sabtu (4/1) ko jadi gak fail buat #1day1pict hehe.
Hari ini sesi konsultasi nih menemani ibu dokter yang mau diramal. Tempatnya sih di Infinito Cafe yah sekalian promosi juga hehe. Mungkin kalau barusan dibilang ramal agak serem kali yah kita ganti namanya jadi sesi curhat karena emang bukan meramal masa depan dan semacamnya itu Tuhan Yang Maha Tahu, di sini kesannya jadi ngobrol dan bertukar pikiran atas masalah yang lagi dihadepin.
Bang Gio namanya, suhu saya dalam belajar sulap dan jago banget dalam soal mentalist menurut saya. Nah Bang Gio inilah pakar yang kita ajak ngobrol.
Bu dokter terlihat senang dan seram karena pertanyaannya terjawab dan terbagikan masalahnya. Saya yang asalnya hanya melihat tiba-tiba juga ditodong “Nanti sama lu mah empat mata aja yah”. Setelah itu bu dokter pun pulang.
Akhirnya tinggal saya sendiri, penasaran juga sih pengen ngebagi pengalaman aja tapi gak ditarot juga sih. Kita ngobrol serius dari sini. Dari obrolan itu saya mengambil banyak pelajaran dari apa yang Bang Gio hadepin dan apa masalah yang saya hadepin juga. Intinya buat saya pribadi adalah untuk membuka mata kembali, membuka telinganya kembali dan membuka hatinya kembali dan saya akan mengambil kesempatan ini. Sekian.

Buka Mata, Hati, Telinga

Aduh ini sebenernya bisa dibilang late post ni maaf, baru pulang banget. Tapi fotonya di ambil malem sabtu (4/1) ko jadi gak fail buat #1day1pict hehe.

Hari ini sesi konsultasi nih menemani ibu dokter yang mau diramal. Tempatnya sih di Infinito Cafe yah sekalian promosi juga hehe. Mungkin kalau barusan dibilang ramal agak serem kali yah kita ganti namanya jadi sesi curhat karena emang bukan meramal masa depan dan semacamnya itu Tuhan Yang Maha Tahu, di sini kesannya jadi ngobrol dan bertukar pikiran atas masalah yang lagi dihadepin.

Bang Gio namanya, suhu saya dalam belajar sulap dan jago banget dalam soal mentalist menurut saya. Nah Bang Gio inilah pakar yang kita ajak ngobrol.

Bu dokter terlihat senang dan seram karena pertanyaannya terjawab dan terbagikan masalahnya. Saya yang asalnya hanya melihat tiba-tiba juga ditodong “Nanti sama lu mah empat mata aja yah”. Setelah itu bu dokter pun pulang.

Akhirnya tinggal saya sendiri, penasaran juga sih pengen ngebagi pengalaman aja tapi gak ditarot juga sih. Kita ngobrol serius dari sini. Dari obrolan itu saya mengambil banyak pelajaran dari apa yang Bang Gio hadepin dan apa masalah yang saya hadepin juga. Intinya buat saya pribadi adalah untuk membuka mata kembali, membuka telinganya kembali dan membuka hatinya kembali dan saya akan mengambil kesempatan ini. Sekian.

Jika Kau Masih Ingat, Aku Menunggu

Yah tempat ini ketika aku menunggu kau selesai bimbingan. Aku menunggu dalam cemas karena aku tahu kau kala itu kebingungan. Aku hanya ingin membantu. Kau datang menghampiri, Aku tanya “Bagaimana?”. Kau kesal kalau aku bertanya lalu kau jawab “Sudah jangan ditanya!”. Aku diam tidak melanjutkan, biasanya aku cari topik lain agar kau senang tanpa memikirkan masalah. Biasanya aku ajak kau juga untuk makan, tapi mungkin situasinya salah. Aku tahu aku tidak selamanya tahu apa maksudmu. Kenapa aku tulis, ah ini hanya sebagai pengingat saja.

Jika Kau Masih Ingat, Aku Menunggu

Yah tempat ini ketika aku menunggu kau selesai bimbingan. Aku menunggu dalam cemas karena aku tahu kau kala itu kebingungan. Aku hanya ingin membantu. Kau datang menghampiri, Aku tanya “Bagaimana?”. Kau kesal kalau aku bertanya lalu kau jawab “Sudah jangan ditanya!”. Aku diam tidak melanjutkan, biasanya aku cari topik lain agar kau senang tanpa memikirkan masalah. Biasanya aku ajak kau juga untuk makan, tapi mungkin situasinya salah. Aku tahu aku tidak selamanya tahu apa maksudmu. Kenapa aku tulis, ah ini hanya sebagai pengingat saja.

Hari Ketiga, Gedung Riset dan Inovasi ITB

Sekarang foto yang diambil ini adalah Gedung Riset dan Inovasi yang dulunya bernama Gedung Pusat Penelitian Antar Universitas (PPAU). Serem yah keliatannya? emang sih ahaha. Banyak kejadian mistis katanya. Tapi Alhamdulillah sudah setahun lebih saya di sini gak ada yang gimana gitu, tapi yah kalau kerasa mah ada sih hehe.

Oke tapi sekarang kita gak akan ngobrolin mistisnya, saya mau cerita pengalaman saya bekerja di sini dalam tim E-learning Development. Memang sudah hampir setahun lebih menempati gedung ini tepatnya di ruangan Blended Learning ITB. Pernah sampe ke kunci satpam lah, nginep juga pernah yah lumayan lah buat setahunan.

Ruangan saya ini di lantai satu dan mungkin paling berisik, yah maklum lah para pekerja kreatif orang - orangnya gak bisa diem pasti ada aja yang dibikin ribut. Saya bekerja memang tidak sendirian, ada sahabat-sahabat saya juga yang ngebangun tim ini dari awal yang ngebuat suasana angeuut.

Kadang nyanyi bareng sambil di rekam yang post lalu ada namanya The Admin. Terus main yang Iya Tidak Bisa Jadi pake sticky note biar nempel tulisannya di jidat. Ah pokonya banyak hal yang konyol yang dilakuin disitu. Soalnya kami berprinsip tempat kerja harus se-fun mungkin biar otaknya gak stress dan ke pake maksimal hehe.

Tapi sekarang mungkin kehangatannya bakal berkurang, beberapa sahabat saya gak bisa ikut kerjasama lagi tahun ini. Mereka punya kepentingan lain yang lebih utama dari ini. Sedih sih memang tapi bagaimana lagi itu sudah jadi keputusan mereka. Namanya juga hidup pasti harus ada perubahan dan itu akan terus seperti itu, berputar. Terima kasih sahabat moga kita bisa bekerjasama di lain kesempatan. Dah Ucup dah Ami, aku akan merindukan kalian :(

enochliew:

Silver Strand Beach House by Robert Kerr

Designed to embrace ocean and channel views. The building slowly reveals interior sculpting derived from exterior context.

Semoga nanti rumah saya bisa dibentuk seperti ini aamiin.

(Source: rkad.com)

blog comments powered by Disqus